Menganalisis stuktur pasar dalam
industri pelayaran peti kemas memerlukan beberapa data sebagai perbandingan.
Untuk mengetahui besar total supply yang berada di pasar, kita harus mengetahui
berapa banyak space (dalam TEUs) yang
dialokasikan seluruh pelayaran internasional di area tertentu. Namun untuk
mengetahui jumlah total riil dari lalu lintas perdagangan internasional yang
menggunakan jasa layanan pelayaran peti kemas, kita dapat melihat angka total
(dalam TEUs) yang telah melakukan aktifitas pelayaran di suatu pelabuhan
bongkar-muat, kita menyebutnya dengan angka Troughput.
Angka statistik ini lah yang kami jadikan pedoman utama dalam melakukan
pemetaan stutktur pasar pelayaran internasional di kawasan negara-negara ASEAN.
Kebutuhan pengiriman peti kemas di
Indonesia terus meningkat. Antara tahun 2005 dan 2010 throughput peti kemas di pelabuhan nasional meningkat sebesar 11%,
peningkatan throughput yang terbesar
keempat selama periode ini dibandingkan dengan 13 dari sesama negara di Asia.
Meskipun dengan pertumbuhan dua digit ini jumlah throughput peti kemas Indonesia tertinggal tetangganya, dengan
pelabuhan Indonesia menangani 8.37 juta unit setara dua puluh kaki (TEUs) pada
2010, menempatkannya di tempat ketujuh dibandingkan dengan negara tetangga.
LHS: Asia Average % y-o-y Container Throughput Growth (2005-2010). RHS: 2010
Container
Throughput
(TEUs)
Source: World Bank, BMI
Masalah utama
yang dihadapi sektor kelautan peti kemas di Indonesia adalah ketertinggalan
infrastruktur pelabuhan. Menurut World
Economic Forum Indeks Daya Saing Global, pelabuhan Indonesia berada pada
peringkat ke 12 di antara 14 sesama negara regional. Pelabuhan Indonesia belum
berkembang cukup cepat untuk mengikuti pertumbuhan ekonomi makro di Indonesia,
dan sangat terganggu oleh kongesti kapal di pelabuhan dan backlogs.
Faktor-faktor ini telah mempengaruhi
skala konektivitas negara. Selain itu, pelabuhan di Indonesia belum dapat
mengikuti tren di sektor pelayaran peti kemas untuk menuju 'lebih besar lebih
baik', dengan pejabat Bank Dunia Indonesia Henry Sandee menyatakan bahwa
pelabuhan Indonesia, termasuk pelabuhan peti kemas utama nasional Tanjung Priok,
hanya dapat menampung kapal yang mengangkut hingga 4.000 kontainer. Ini hanya cukup
untuk perdagangan intra-Asia, yang secara tradisional dilakukan dengan
kapal-kapal kecil, hal itu membuat proses ekspor ke pasar lebih jauh seperti
Eropa, Amerika dan Afrika menjadi sangat tidak kompetitif.
Komparasi Tingkat Konektifitas
Indonesia dengan Negara Tetangga
UNCTADstat Liner Connectivity
Index For Asia, 2004 (LHS) and 2012 (RHS)
Source: UNCTADstat
Pelabuhan Indonesia telah tertinggal oleh pesaing mereka di Asia, terutama
dengan Vietnam yang sedang melakukan pngembangan untuk
menangani kapal yang lebih besar dan menjadi pelabuhan singgah pada layanan
langsung ke AS dan Eropa. Berdasarkan data statistik UNCTAD Indeks Liner
Konektivitas Indonesia telah menurun dalam hal tingkat konektivitas
dibandingkan dengan sesama negara di Asia, dari posisi ke-11 pada tahun 2004
menjadi posisi ke-13 pada tahun 2012, dari 14.
Ekspansi ekonomi menempatkan Tekanan lebih besar Pada
Pelabuhan
Prospek jangka menengah bagi
pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menempatkan tekanan lebih lanjut pada sektor
pelabuhan peti kemas Indonesia. Pertumbuhan PDB riil Indonesia terjun pada
tahun 2014 (turun ke 5.0%) dan ditetapkan pulih secara moderat pada tahun 2015
(5,3%). Laju pertumbuhan telah dipengaruhi oleh perlambatan di China (pasar
ekspor terbesar kedua di Indonesia), serta sedikit banyak terpengaruh global
dan risiko politik di Pemilu 2014 Indonesia. Pemerintah baru mengurangi subsidi
BBM, keputusan yang menyebabkan lonjakan jangka pendek inflasi dan penyesuaian ekonomi
lainnya. Namun, pertumbuhan dalam jangka menengah hingga 2019 diproyeksikan
untuk terangkat dan diperkirakan melebihi yang terlihat dalam lima tahun
sebelumnya. BMI memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar rata-rata
tahunan sebesar 6,5% antara tahun 2015 dan 2019, naik dari rata-rata
pertumbuhan PDB riil Indonesia 6,0% per tahun antara tahun 2010 dan 2014.
Indikator konsumen untuk Indonesia, yang
merupakan pendorong utama pertumbuhan throughput
peti kemas, terlihat cukup kuat bagi Indonesia dalam jangka menengah.
Populasi penduduk Indonesia berkembang, BMI memperkirakan pertumbuhan populasi
sebesar 4,5% dalam jangka menengah. Sebuah persentase yang lebih besar dari
populasi akan memiliki pendapatan bersih, dengan persentase aktif dari populasi
negara itu meningkat dari sekitar 68% pada tahun 2013 mendekati 70% pada 2018.
Tentu saja ini merupakan sebuah dorongan tambahan untuk kemampuan warga
negaranya untuk berbelanja. Adalah kenyataan bahwa pengangguran akan tetap
rendah selama periode yang diperkirakan.
BMI juga memprediksi tingkat ekonomi
dan perdagangan Indonesia untuk terus mendapatkan keuntungan dari perjanjian
perdagangan bebas yang mulai berlaku pada bulan Januari 2010 antara Perhimpunan
Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), dimana Indonesia merupakan anggotanya, dan
China.
a. Pangsa Pasar
Pangsa
pasar (Market share) adalah
persentase pasar yang ditentukan dalam ukuran unit maupun revenue dan dihitung
berdasarkan specific entity. Pangsa pasar merupakan sebuah indikator tentang apa yang dilakukan sebuah
perusahaan terhadap kompetitornya dengan dukungan perubahan-perubahan dalam
penjualan. Pangsa pasar juga menjelaskan
penjualan perusahaan sebagai presentase volume total penjualan dalam industri,
market ataupun produk.
Meskipun
terdapat banyak pelabuhan utama, namun di Asean setiap negara memeliki
pelabuhan andalannya masing-masing. Dari sini penulis mencoba memetakan pangsa
pasar pelayaran petikemas internasional di setiap negara.
Pelabuhan-pelabuhan
utama di ASEAN, Menangani 103.3 Juta TEUs di tahun 2014, terhitung 80% dari
total troughput di ASEAN
Dari
peta pangsa pasar diatas dapat terlihat bahwa Singapura tetap dan selalu
menjadi raja di kawasan ASEAN dalam hal total Troughput peti kemas.
Meninggalkan jauh negara-negara tetangganya, Singapura benar-benar mampu
mengkapitalisasi keunggulan geopolitiknya di kawasan Asia. Berada di sentral
lalu lintas perdagangan internasional, Singapura telah bergerak lebih cepat
jauh mendahului negara-negara sekitarnya. Singapura sudah tidak lagi apple to apple dengan
pelabuhan-pelabuhan peti kemas di Asia tenggara bahkan di ASIA.
Bahkan
di dunia, satu-satunya pelabuhan pesaing Singapura dalam hal total troughput peti kemas hanya Shanghai yang
pada tahun 2014 mampu mencapai total troughput
sebesar 35.28 TEUs / tahun.
10 Pelabuhan terbesar dunia,
berdasarkan Total Jumlah Peti Kemas
yang ditangani selama satu tahun 2014
(Alphaliner,
2014)
Pesaing
terdekat pangsa pasar industri pelayaran petikemas nasional di kawasan ASEAN
adalah Malaysia, Thailand dan Vietnam. Ketiga negara ini menggeliat dalam
mengejar kompetisi dengan Singapura. Pelabuhan Port Kelang dan Tanjung Pelepas
yang dimiliki oleh Malaysia secara total telah menangani 19.5 Juta TEUs dalam
se-tahun 2014. Sedangkan Laemchabang telah mewakili Thailand untuk meningkatkan
prosentase troughputmya sebesar 0.8 Juta TEUs per tahun dalam kurun waktu
2012-2014. Begitu pula Vietnam, menggabungkan Hochiminh dan Haiphong, negara
ini mampu merangsek ke papan tengah pangsa pasar peti kemas internasional ASEAN
menjadi 9.8 Juta TEUs dalam tahun 2014.
b. Concentration
Ratio (CR)
Rasio
konsentrasi (Concentration ratio atau biasa disingkat dengan CR) menunjukkan
persentase dari total output industri yang menjadi tanggung jawab sejumlah perusahaan
tertentu. Rasio konsentrasi empat perusahaan
(CR4) diartikan
sebagai pangsa relatif dari total ouput
industri yang dikuasai oleh empat perusahaan terbesar, dan CR8 diartikan
sebagai persentase pangsa pasar relatif delapan perusahaan yang ada dalam
industri.
Dalam
Industri pelayaran peti kemas internasional di kawasan ASEAN kita mendapati
data sebagaimana berikut. :
No
|
Pelabuhan
|
Troughput
|
SHARE (%)
|
1
|
Singapura
|
33,908,567
|
32.17
|
2
|
Port Kelang
|
10,945,804
|
10.39
|
3
|
Tanjung Pelepas
|
8,550,000
|
8.11
|
4
|
Laemchabang
|
6,583,168
|
6.25
|
5
|
Tanjung Priok
|
6,504,330
|
6.17
|
6
|
Hochiminh
|
6,390,000
|
6.06
|
7
|
Manila
|
3,650,000
|
3.46
|
8
|
Haiphong
|
3,450,000
|
3.27
|
9
|
Tanjung Perak
|
3,130,000
|
2.97
|
10
|
Penang
|
1,200,000
|
1.14
|
11
|
Others
|
21,077,967
|
20.00
|
TOTAL
|
105,389,836
|
100.00
|
Market
share 10 Pelabuhan terbesar ASEAN ,
berdasarkan
Total Jumlah Peti Kemas yang ditangani selama satu tahun 2014
(Data
gabungan dari otoritas Pelabuhan masing-masing negara, 2015)
Dengan menjumlahkan total share dari
4 besar dan 8 besar Pelabuhan kita dapat memperoleh CR4 dan CR8 dari pangsa
pasar peti kemas di kawasan ASEAN.
CR4 = 32.17 +
10.39 + 8.11 + 6.25 = 56.92
CR8 = 32.17 +
10.39 + 8.11 + 6.25 + 6.17 + 6.06 + 3.46 + 3.27 = 75.89
HHI = (32.17)^2 +
(10.39)^2 + (8.11)^2 + (6.25)^2
+ (6.17)^2 + (6.06)^2 + (3.46)^2
+ (3.27)^2 + (2.97)^2 + (1.14)^2
= 1356
Berdasarkan data tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa
saat ini industri pelayaran peti kemas internasional di kawasan ASEAN cenderung
bersifat oligopopoli. Sedangkan HHI bernilai 1356 menunjukkan bahwa industri
ini cenderung sangat tinggi terkonsentrasi. Hal itu dapat dijelaskan karena
tingginya investasi untuk masuk ke dalam industri ini. Sehingga sangat sulit bagi
pendatang baru untuk dapat masuk dan bertahan di lingkungan Industri ini.
Adapun
jika kita menghitung ulang dengan menggabungkan setiap pelabuhan yang ada di
dalam satu negara, kita memperoleh data sebagai berikut.
Negara
|
Troughput
|
SHARE (%)
|
Singapura
|
33,908,567
|
32.17
|
Malaysia
|
20,695,804
|
19.64
|
Vietnam
|
9,840,000
|
9.34
|
Indonesia
|
9,634,330
|
9.14
|
Thailand
|
6,583,168
|
6.25
|
Philipines
|
3,650,000
|
3.46
|
21,077,967
|
20.00
|
|
TOTAL
|
105,389,836
|
100.00
|
Market
share negara dengan pelabuah terbesar di kawasan ASEAN ,
berdasarkan
Total Jumlah Peti Kemas yang ditangani selama satu tahun 2014
CR2 = 32.17 +
19.64 = 51.81
Dengan
mengkalkulasikan CR2 seperti diatas, kita dapat melihat bahwa hampir separuh pangsa
pasar ASEAN di kuasai oleh dua negara yakni Singapura dan Malaysia. Dengan
demikian kita pun dapat menyimpulkan bahwa karakteristik industri pelayaran
peti kemas di ASEAN (di lihat dari troughput
per negara nya) adalah cenderung bersifat duopoli.
Hal
itu sejalan dengan fakta bahwa meskipun perdagangan intra ASEAN masih tetap
mendominasi, namun total perdagangan dengan negara-negara di luar ASEAN tetap
lebih besar. Dengan demikian Malaysia dan Singapura yang memiliki keunggulan
kompetitif berupa statusnya sebagai pelabuhan Hub (Angkut Lanjut). Dengan statusnya tersebut ditambah dengan
kapasitas pelabuhan yang jauh lebih besar serta kedalaman dermaga yang
mencukupi membuat kapal-kapal berkapasitas utra besar dapat bersandar di
pelabuhannya. Dampaknya bersifat eksponensial, negara-negara ASEAN dipaksa
untuk mengangkut barang dagangnya melalui Singapura, Port Kelang atau pun
Tanjung Pelepas jika ingin mengirim nya ke jalur perdagangan jarak jauh seperti
Amerika, Eropa, maupun Afrika.
Mitra
Dagang ASEAN
Frost
& Sullivan Overview, 2012
c. Barrier to entry
Hambatan
masuk (barrier to entry): perilaku
ekonomi di dalam perusahaan yang merefleksikan jumlah saingan yang ada dalam
pasar. Seorang monopolis dapat saja menaikkan harga diatas harga rata-rata
untuk meningkatkan keuntungan, tetapi hal ini tidak dilakukan karena dengan
begitu akan men
Untuk
memasuki industri pelayaran petikemas internasional memiliki total fix cost yang cukup besar, terutama
dalam pembuatan kapal dan penyiapan system informasi. Selain itu, industri ini
juga memiliki hambatan untuk keluar dari pasar yaitu total sunk cost dari pembuatan kapal yang relatif besar. Sunk cost merupakan biaya yang sudah
ditimbulkan, sehingga tidak dapat diubah dengan pembuatan keputusan, baik sekarang
maupun waktu yang akan datang. Terbukti, kegagalan prediksi ekonom dan pemain
di industri pelayaran telah membuat kapal-kapal yang sudah di pesan dan dibuat
telah menjadi faktor utama hancurnya profitabilitas industri ini dalam beberapa
tahun ke belakang.
Pangsa
pasar beberapa perusahaan yang sangat besar menjadi hambatan bagi perusahaan
baru untuk masuk ke industri tersebut. Perusahaan baru yang ingin masuk harus
memiliki keunggulan untuk dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang
sudah lama masuk dan memiliki pangsa pasar yang besar. Pada kenyataannya hal
itu amatlah tidak mudah, karena terkendala dana investasi yang besar dan
keterbatasan knowledge terkait dengan
pasar dan operasional perusahaan pelayaran peti kemas yang sangat khas.





Mantaaps mas Gena, jadi inget CR4 dan Index HHI, he he he.
BalasHapuskeren abiss EML nya
BalasHapus