Selasa, 15 Desember 2015

Industri Pelayaran Petikemas Internasional Indonesia: Sebuah Pengantar

Pasca krisis ekonomi Amerika dan Eropa tahun 2009-2010 Ekonomi Asia menjadi satu-satunya pilar ekonomi dunia yang berdiri kokoh. Logistic follow the trade, industri pelayaran pun pada akhirnya mencoba memanfaatkan kondisi ini sebagai satu-satunya cara menyelamatkan hidup mereka. Direktur utama Maersk Line mengakui bahwa mereka telah salah melakukan kalkulasi terhadap tingginya permintaan terhadap pelayaran petikemas yang telah terbukti jauh dibawah harapan saat mereka dan kebanyakan pelayaran petikemas dunia lainnya melakukan pemesanan begitu banyak kapal dengan nilai milyaran dollar dua tahun sebelum krisis terjadi (Wall Street Journal, 2013)
Perusahan pelayaran melirik rute Intra-Asia sebagai solusi untuk menyerap surplus yang amat parah dari kapal-kapal petikemas Panama tahun 2007-2008. Menurunnya tarif sewa kapal petikemas secara langsung dan tidak langsung menyediakan insentif bagi peningkatan rute pelayaran intra asia dan far-east. Secara bersamaan hal itu pun menjadi sarana membagi rata beban bungker (bahan bakar kapal) kepada lebih banyak petikemas yang dibawa berlayar. Perusahaan pelayaran berkumpul dan mengkonsolidasi volume mereka pada rute-rute pelayaran dengan skala 4000-5000 teu dengan mengorbankan rute-rute pelayaran dengan skala 1700-2800 teu (Alphaliner, 2014).
Meski demikian, keuntungan-keuntungan tersebut dapat dengan mudah kandas dikarenakan ketidakmampuan rute-rute tersebut untuk menyediakan beberapa faktor kuncinya, salah satunya adalah kedalaman dermaga pelabuhan. Selain itu volume yang lebih tinggi ditangani pada kapal-kapal besar ini mengakibatkan masa tinggal pelabuhan yang lebih lama, hal itu secara langsung akan membatasi jumlah sandar kapal dalam waktu yang sama. Kondisi kurang menguntungkan ini secara khusus menjadi perhatian dalam jalur perdagangan intra Asia.
Rute perdagangan Intra Asia sangat bergantung pada TRV (turn Round Voyage) yang singkat dan kesempatan yang banyak dalam memuat kargo di semakin banyak pelabuhan muat. Beberapa pelayaran mencoba berkompromi dengan kondisi tersebut, dengan menawarkan rute pelayaran dengan skala yang lebih kecil (dibawah 3000 teu)[1] melalui pengaturan slot (Alphaliner, 2014).

1.1 Diagram, Kapal Petikemas yang diluncurkan 2008-2014
Data maret 2014 menunjukan bahwa saat ini ada 83 kapal berbendera Panama dengan kapasitas 3000-5000 teu diluncurkan pada rute pelayaran intra Asia dan Timur Jauh. Hal ini berbanding hampir tiga kali lipat pada tahun 2008 yakni hanya 35 kapal. Meskipun ada peningkatan penggunaan kapal panamax pada sektor ini, sebagian besar layanan Asia intra berdedikasi saat ini masih menggunakan kapal kecil 1,000-2,800 teu, dan adopsi yang lebih luas dari kapal yang lebih besar pada perdagangan ini diperkirakan masih bertahap (Alphaliner, 2014).
Dengan kata lain semenjak krisis ekonomi Amerika yang disusul oleh Eropa, dalam kurun 6 tahun, supply dari kapasitas kapal petikemas di rute intra-Asia telah mengalami peningkatan sebanyak 300%. Data ini tentu saja menjadi sebuah indikasi awal bahwa persaingan di pasar Asia menjadi semakin ketat. Dengan kapasitas ketersediaan space di rute intra Asia yang semakin besar maka peran pasar menjadi lebih besar dalam mendikte industri pelayaran.
                                                            



1.2 Diagram, Marjin Operasional dari Perusahaan Pelayaran yang disurvey oleh Alphaliner


Kondisi keuangan global tersebut juga telah meenghadapkan industri pelayaran pada dampak yang amat sangat luar biasa. Sebagai konsekuensi dari rendahya permintaan terhadap jasa transportasi pelayaran adalah kelebihan kapasitas kapal yang secara langsung mengakibatkan harga angkut yang menjadi sangat rendah. Sebagai akibatnya, sejumlah besar perusahaan pelayaran mengoperasikan perusahaan mereka dalam kondisi rugi. Merujuk pada Alphaliner (2011), 14 dari 15 perusahaan pelayaran yang disurvey membukukan kerugian berkisar antara -3% hingga -25% pada kuartal ketiga tahun 2011. Menurunnya keuntungan telah menyebabkan meningkatnya focus pada meningkatnya pemanfaatan aset dan minimalisasi biaya operaasi utama. 

  Industri Pelayaran Peti Kemas Internasional, Peran dalam pembangunan di era ASEAN

Industri pelayaran petikemas internasional mempunyai andil besar dalam pembangunan, khususnya di Indonesia. Terlebih lagi di era ASEAN, pembangunan akan semakin pesat berkat adanya industri pelayaran petikemas yang semakin baik. Proses perdagangan interinsular maupun internasional semakin dimudahkan dengan perkembangan industry pelayaran petikemas yasng semakin pesat .  Jadi industri pelayaran petikemas telah dan akan membawa kita ke dunia yang lebih maju. Industri maritim secara umum di Indonesia,akan membuat Indonesia bisa bersaing dengan Negara lain.
Melihat pentingnya sector industry pelayaran petikemas ini dalam hidup masyarakat, semua pihak harus berkontribusi terhadap perkembangan dan kesehatan industrinya . Oleh karena itu Analisis Structue-Conduct-Performance (SCP) penting dilakukan untuk melihat bentuk persaingan yang terjadi dan tipe pasar dalam industri pelayaran peti kemas internasional di Indonesia dalam konteks ASEAN.








[1] TEU = Twenty Equivalent Unit, Satuan yang menjadi standard ukuran satu buah petikemas dengan ukuran 20’ feet

1 komentar:

  1. Dek Gena, blognya bagus dan bermanfaat looo...keep up the good work ya!

    BalasHapus