Pasca krisis ekonomi Amerika dan Eropa tahun 2009-2010 Ekonomi
Asia menjadi satu-satunya pilar ekonomi dunia yang berdiri kokoh. Logistic follow the trade, industri
pelayaran pun pada akhirnya mencoba memanfaatkan kondisi ini sebagai
satu-satunya cara menyelamatkan hidup mereka. Direktur utama Maersk Line
mengakui bahwa mereka telah salah melakukan kalkulasi terhadap tingginya
permintaan terhadap pelayaran petikemas yang telah terbukti jauh dibawah
harapan saat mereka dan kebanyakan pelayaran petikemas dunia lainnya melakukan
pemesanan begitu banyak kapal dengan nilai milyaran dollar dua tahun sebelum
krisis terjadi (Wall Street Journal, 2013)
Perusahan pelayaran melirik rute Intra-Asia sebagai solusi untuk
menyerap surplus yang amat parah dari kapal-kapal petikemas Panama tahun
2007-2008. Menurunnya tarif sewa kapal petikemas secara langsung dan tidak
langsung menyediakan insentif bagi peningkatan rute pelayaran intra asia dan far-east. Secara bersamaan hal itu pun
menjadi sarana membagi rata beban bungker
(bahan bakar kapal) kepada lebih banyak petikemas yang dibawa berlayar.
Perusahaan pelayaran berkumpul dan mengkonsolidasi volume mereka pada rute-rute
pelayaran dengan skala 4000-5000 teu dengan mengorbankan rute-rute pelayaran
dengan skala 1700-2800 teu (Alphaliner, 2014).
Meski demikian, keuntungan-keuntungan tersebut dapat dengan
mudah kandas dikarenakan ketidakmampuan rute-rute tersebut untuk menyediakan beberapa
faktor kuncinya, salah satunya adalah kedalaman dermaga pelabuhan. Selain itu
volume yang lebih tinggi ditangani pada kapal-kapal besar ini mengakibatkan
masa tinggal pelabuhan yang lebih lama, hal itu secara langsung akan membatasi
jumlah sandar kapal dalam waktu yang sama. Kondisi kurang menguntungkan ini
secara khusus menjadi perhatian dalam jalur perdagangan intra Asia.
Rute perdagangan Intra Asia sangat bergantung pada TRV (turn Round Voyage) yang singkat dan
kesempatan yang banyak dalam memuat kargo di semakin banyak pelabuhan muat.
Beberapa pelayaran mencoba berkompromi dengan kondisi tersebut, dengan
menawarkan rute pelayaran dengan skala yang lebih kecil (dibawah 3000 teu)[1]
melalui pengaturan slot (Alphaliner,
2014).
1.1 Diagram, Kapal Petikemas yang diluncurkan 2008-2014
Data maret 2014 menunjukan bahwa saat ini ada 83 kapal
berbendera Panama dengan kapasitas 3000-5000 teu diluncurkan pada rute
pelayaran intra Asia dan Timur Jauh. Hal ini berbanding hampir tiga kali lipat
pada tahun 2008 yakni hanya 35 kapal. Meskipun ada peningkatan penggunaan kapal
panamax pada sektor ini, sebagian besar layanan Asia intra berdedikasi saat ini
masih menggunakan kapal kecil 1,000-2,800 teu, dan adopsi yang lebih luas dari
kapal yang lebih besar pada perdagangan ini diperkirakan masih bertahap
(Alphaliner, 2014).
Dengan kata lain semenjak krisis ekonomi Amerika yang disusul
oleh Eropa, dalam kurun 6 tahun, supply
dari kapasitas kapal petikemas di rute intra-Asia telah mengalami peningkatan
sebanyak 300%. Data ini tentu saja menjadi sebuah indikasi awal bahwa
persaingan di pasar Asia menjadi semakin ketat. Dengan kapasitas ketersediaan space di rute intra Asia yang semakin
besar maka peran pasar menjadi lebih besar dalam mendikte industri pelayaran.
1.2 Diagram, Marjin Operasional dari Perusahaan Pelayaran yang
disurvey oleh Alphaliner
Kondisi keuangan global tersebut juga telah meenghadapkan
industri pelayaran pada dampak yang amat sangat luar biasa. Sebagai konsekuensi
dari rendahya permintaan terhadap jasa transportasi pelayaran adalah kelebihan
kapasitas kapal yang secara langsung mengakibatkan harga angkut yang menjadi
sangat rendah. Sebagai akibatnya, sejumlah besar perusahaan pelayaran
mengoperasikan perusahaan mereka dalam kondisi rugi. Merujuk pada Alphaliner
(2011), 14 dari 15 perusahaan pelayaran yang disurvey membukukan kerugian
berkisar antara -3% hingga -25% pada kuartal ketiga tahun 2011. Menurunnya
keuntungan telah menyebabkan meningkatnya focus pada meningkatnya pemanfaatan
aset dan minimalisasi biaya operaasi utama.
Industri Pelayaran Peti
Kemas Internasional, Peran dalam pembangunan di era ASEAN
Industri pelayaran petikemas internasional mempunyai andil besar
dalam pembangunan, khususnya di Indonesia. Terlebih lagi di era ASEAN, pembangunan
akan semakin pesat berkat adanya industri pelayaran petikemas yang semakin baik.
Proses perdagangan interinsular maupun internasional semakin dimudahkan dengan
perkembangan industry pelayaran petikemas yasng semakin pesat . Jadi industri pelayaran petikemas telah dan
akan membawa kita ke dunia yang lebih maju. Industri maritim secara umum di
Indonesia,akan membuat Indonesia bisa bersaing dengan Negara lain.
Melihat pentingnya sector industry pelayaran petikemas ini dalam
hidup masyarakat, semua pihak harus berkontribusi terhadap perkembangan dan
kesehatan industrinya . Oleh karena itu Analisis Structue-Conduct-Performance
(SCP) penting dilakukan untuk melihat bentuk persaingan yang terjadi dan tipe
pasar dalam industri pelayaran peti kemas internasional di Indonesia dalam
konteks ASEAN.
[1]
TEU = Twenty Equivalent Unit, Satuan yang menjadi standard ukuran satu buah
petikemas dengan ukuran 20’ feet


Dek Gena, blognya bagus dan bermanfaat looo...keep up the good work ya!
BalasHapus